PANGKALPINANG — Tim Rampak Kendang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai mempersiapkan diri untuk tampil dalam berbagai agenda pemerintahan maupun kegiatan budaya.
Tim yang baru kembali diaktifkan tersebut diperkuat sejumlah alat musik perkusi dan tradisional. Peralatan yang digunakan terdiri atas lima buah tom-tom, lima buah floor, lima buah kendang, dua buah bedug, satu buah tamborin, satu buah gitar dambus, serta satu buah rhythm djembe.
Perpaduan alat musik tersebut menjadi bagian dari komposisi penampilan Rampak Kendang yang dinamis dengan sentuhan musik tradisional.
Kepala Satpol PP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Budi Utama, mengatakan keberadaan tim tersebut diharapkan tidak hanya untuk mengisi kegiatan internal Satpol PP.
Tim Rampak Kendang juga diproyeksikan dapat tampil dalam acara resmi pemerintahan daerah, festival budaya, penyambutan tamu daerah maupun kegiatan budaya lainnya.
“Kita ingin tim ini bisa tampil dalam berbagai kegiatan. Bukan hanya kegiatan Satpol PP, tetapi juga acara resmi pemerintah daerah, festival budaya, penyambutan tamu daerah maupun kegiatan budaya lainnya,” ujar Budi di ruang kerjanya, Kamis (24/09/2026).
Menurut Budi, keberadaan tim juga membuka peluang bagi masyarakat yang ingin menghadirkan penampilan Rampak Kendang dalam kegiatan kemasyarakatan.
Ia mengatakan, masyarakat ke depan dapat mengundang Tim Rampak Kendang Satpol PP Babel dengan mengikuti mekanisme dan ketentuan yang akan ditetapkan.
“Ke depan tidak menutup kemungkinan masyarakat bisa mengundang Tim Rampak Kendang Satpol PP untuk mengisi kegiatan kemasyarakatan. Tentunya akan ada mekanisme dan ketentuan yang mengatur, termasuk terkait tarif penampilan,” kata Budi.
Budi menilai, keterlibatan tim dalam berbagai kegiatan masyarakat dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas ruang tampil kesenian tradisional.
Selain itu, kehadiran Rampak Kendang dalam kegiatan masyarakat diharapkan dapat memperkenalkan seni tradisional kepada khalayak yang lebih luas.
“Kita ingin Rampak Kendang ini tidak hanya menjadi kegiatan internal, tetapi juga bisa hadir di tengah masyarakat. Dengan begitu, kesenian daerah memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang,” ujarnya.